Entahlah!

Aku belum juga menemukan nama atas diriku sendiri. Yang paling pantas, yang paling mungkin. Belum lagi berdamai dengan hari-hari di belakang yang mengantarkanku benar-benar pada puncak ketidakberwarnaan yang paling. Puncak itu tiada lagi bergelombang. Rata seluruhnya! Pun seluruh yang mengucur ini cuma sekenanya saja. Tak dilebih-lebihkan apalagi dibuang-buang.

Sebagai akibat dari rentetan pristiwa tak kenal ampun belakangan ini, nyaris terlempar akal. Patah segala. Badan tinggal rangka hewani. Tiada lagi berisi.

Tidak! Bukan waktu sedikit. Sampai pada catatan ini, hari Senin sudah terulang sratus kali banyaknya. Tapi sebelum lebih binasa pada ke seratus satu aku membangkang pada kemelut sendiri. Menerobos tembok-tembok perkasa dengan lari berkakikan segala terkuat di atas ardi. Lalu dengan merendah sedalam bumi aku menjelma hina “Ya Robb! Ampuni hamba yang banyak melawan.”

Kadungora, Garut 16 Januari 2020 23:48

Diterbitkan oleh Rijal Abda Mulkan Abada

Lelaki. Bekerja sebagai buruh di pabrik sepatu, Garut. Pendengar yang baik. Belum pernah ke Monas Jakarta. Dan, tentunya, suka sekali makan telur terigu (semacam kulit risol).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: