Dunia Marko

Judul : Dunia Marko

Oleh: Rojiyal Abdi Mulkan Abadi

Kota Bosporus, 1937.

Marko menilik tetangga barunya di kamar nomor tujuh belas. Seorang lelaki dan kedua anaknya. Jelas mereka berasal dari kamp pengungsian, si lelaki menenteng tas bertuliskan “Warsawa Camp”, pengungsian terbesar ketiga di negeri ini.

Tiga hari kemudian. Marko mendapati kedua bocah -tetangga barunya- sedang asik berkejaran di pelataran losmen. Sesekali mereka menggedor pintu kamar lalu berlindung di balik vas bunga besar. Sang Ayah menjenguk keluar, kebingungan, menengok kanan-kirinya dan masuk kembali.

Menyaksikan itu ia terkekeh sambil terus mengisap sisa rokoknya. Marko terus mengikuti gerak-gerik mereka. Sejak tiga hari lalu ia telah menguntit kedua bocah ini.

Permainan keduanya berlanjut dengan bola karet merah hingga masuk ke dalam kamar nomor empat belas, ya, kamar si Marko. Sebetulnya sengaja Marko mengambil bola yang mendarat di depan pintu dan menyembunyikannya.

Dengan ragu kedua bocah menyelinap masuk tanpa permisi. “Dasar bocah polos”, Marko mengawasi dari kasur di pojokan kamar.

“Kalian ingin mencuri makanan?” keduanya tersentak mendengar itu. Mereka saling tatap dan “Maafkan Tuan, kami hanya mencari bola karet merah disini.” si bocah lelaki membela diri.

“Tenang saja, aku bukan penjahat. Namaku Marko.” ia tersenyum lalu menamatkan rokoknya. “Siapa nama kalian?”

“Namaku Charles ,ini adikku Julia.” Charles mengamati ruangan. Ia terkejut mendapati sebongkah mainan beraneka macam

“Tuan, milik siapakah mainan-mainan itu?”Charles kegirangan berharap bisa bermain sepuas-puasnya begitupun Julia yang hanya mematung.

Marko tertegun sambil meraih sebatang lagi dan menyulutnya hingga kepulan asap menyesaki ruangan.

“Milik adikku, sekarang ia telah tiada.”raut mukanya lusuh.

“Bolehkah kami sering datang kemari? Karena kami tak memiliki banyak mainan.” Mereka begitu lugu. Tak mengindahkan bahaya yang mengancam hanya karena mainan.

Marko berpikir sejenak sambil mengamati sekitar, melangkah tak jelas keluar kamar. Ia memeriksa losmen yang sepi penghuni. Menoleh ke segala penjuru. Hanya derit kayu dari atap yang kian lapuk dan beberapa tikus pengerat keluyuran di atasnya.

“Begini, kalian boleh bermain di kamarku. Tapi datanglah setelah pukul sembilan pagi dan pulang sebelum pukul empat sore. Paham?.”jelasnya lalu dibalas anggukan kedua bocah tanda mengerti.

Charles dan Julia meninggalkannya. Marko tersenyum sendiri. “Memang mereka, bocah polos” pikirnya.

*********

Hari berikutnya kedua bocah asik bermain ditemani Marko. Sesuai perjanjian, datang setelah pukul sembilan pagi dan pulang sebelum pukul empat sore. Mula-mula Marko bertanya soal kehidupan kedua bocah, mereka mengungsi dari kamp Warsawa dan disini ayahnya bekerja sebagai tukang servis.

“Ayah kami itu pemurung sekali, sering mabuk. Kami berdua tak begitu diperhatikannya sejak ibu berlibur ke Langit. Berapa hari pun kami tak pulang, ia takkan begitu risau.”

Agaknya “berlibur ke Langit” adalah cara Ayah kedua bocah untuk menghibur. Lalu Marko menjelma jadi seorang Pendongeng. Ia bercerita bahwa dirinya adalah mantan serdadu Polandia. Meski jelas Charles dan Julia tak begitu memahami bahan-bahan yang dibicarakannya.

“Aku bersembunyi di losmen ini. Tentu bukan perkara mudah. Kalian tahu mengapa?”tanya Marko

“Mengapa Tuan?”

“Ah, kalian terlalu dini mengetahui soal ini. Sudah lama aku menyadari ada orang-orang yang membuntutiku.”jawaban Marko membuat Charles menghentikan permainannya.

“Tak perlu heran, sebagai mantan serdadu, tentu hal biasa jika banyak rahasia disimpan olehnya.” Marko tertunduk, pikirannya dalam.

“Ah, sebentar lagi pukul empat sore. Pulanglah kalian. Simpanlah bola karet merah itu disini. Jika sewaktu-waktu ayah kalian bertanya, kalian punya alasan.”

**********

Setelah pukul sembilan pagi, Charles dan Julia langsung menyambar ke kamar Marko. Mereka bertiga lebih asik dari sebelumnya, bermain dan saling tukar cerita. Kali ini Marko bercerita banyak soal dirinya. Betapa ia pernah nyaris terbunuh di peperangan, berpindah-pindah tempat menghindari komplotan mata-mata.

“Sudah hampir pukul empat. Sebaiknya kalian cepat pulang.” mendengar itu kedua bocah tampak kecewa.

“Boleh kami datang lebih pagi? Dan pulang lebih sore? Kenapa harus dibatasi?”Julia kesal. Dia jarang sekali bicara, tampaknya ia terlanjur percaya pada si Marko ini.

“Tidak. Datanglah kemari setelah pukul sembilan dan pulang sebelum pukul empat!” tegasnya “Simpanlah lagi bola karet merah itu, agar kalian punya alasan lagi untuk kemari.”

*************

Hari berikutnya mereka bertiga semakin larut. Marko lebih banyak bercerita soal aksi- aksi heroiknya. Charles dan Julia dibuatnya takjub. Pengalaman-pengalaman kelamnya menjadi dongeng pengantar untuk kedua bocah ini.

Hari demi hari keduanya makin terlanjur mengagumi Marko. “Dia tak kenal takut sedikitpun” pikir Charles begitupun Julia.

*********

Sudah sepekan Charles dan Julia selalu bermain di kamar Marko. Sesuai perjanjian, datang setelah pukul sembilan dan pulang sebelum pukul empat. Mereka tak berpikir panjang soal yang tidak-tidak. Keduanya asik saja bertukar mainan dan mendengar keberanian Marko di kancah perang ataupun di jalanan Kota. Makin hari Marko ini makin menjadi sosok patriot. Manusia paling jantan di kota Bosporus. Mereka berdua, khsusunya Charles, ingin sekali menjadi Marko.

“Sudah hampir pukul empat. Pulanglah kalian. Simpan bola itu disini, agar besok bisa kembali.” Charles dan Julia mengiyakan dan bergegas pulang.

Sore itu pukul empat, Marko hanya melamun di atas ranjang. Ia terus memerhatikan jam dinding. Sesekali ia beranjak keluar, memeriksa sekitar. Hening seolah tak berpenghuni.

Kini, ia mengernyitkan dahi. Sudah pukul empat lewat lima menit, ia bergegas menjenguk keluar, menoleh ke arah tangga. Tak ada siapapun atau apapun.

Pukul empat lebih tiga puluh menit. Marko mulai gelisah, keringat mengucur membasahi kening. Ia kembali memeriksa pelataran kamarnya, tak ada siapapun atau apapun. Apa yang mesti diperbuat, apa datangi saja dua bocah itu, pikirnya. Ia sangsi, pikirannya kacau tak menentu. Pukul lima sore, kegelisahannya makin menjadi. Mulai gemetar jari-jemarinya lalu tertunduk sambil memegangi bola karet merah.

“Marko” seseorang memanggilnya. Marko terkejut dan langsung memeluknya.

“Mama, mengapa kau pulang terlambat, biasanya kau selalu tepat waktu. Aku panik sekali.” Marko merengek-rengek kesal sambil mengoyak lengan baju sang Mama.

“Ah kau ini dari dulu merepotkan saja. Dasar penakut. Sudah dewasa tapi kelakuan seperti bocah.” sang Mama geram “Bola ini lagi, kembalikanlah mainan ini. Sudah terlalu banyak mainan di rumah kita.”

“Tidak Mama, aku senang bola ini.”

-Selesai-

Diterbitkan oleh Rijal Abda Mulkan Abada

Lelaki. Bekerja sebagai buruh di pabrik sepatu, Garut. Pendengar yang baik. Belum pernah ke Monas Jakarta. Dan, tentunya, suka sekali makan telur terigu (semacam kulit risol).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: